Hujan yang turun beberapa hari ini sampai tadi malam di wilayah hulu Sungai Walenae, mengakibatkan beberapa wilayah di Kab. Soppeng terutama yang tinggal di bantaran sekitar sungai Walenae dan sekitarnya diterjang banjir, dan daerah terparah adalah Desa Kebo, Kec. Lilirilau, di mana air mencapai ketinggian 2 sampi 3m.
Datangnya banjir menurut warga Kebo pada jam 3 subuh (14/6) sehingga sempat membuat warga panik, apalagi sebagian masih ada yang sementara tertidur lelap, sehingga kondisi Desa Kebo saat ini yang didiami 2900 KK terisolasi karena jalanan menghubung desa tersebut terputus karena
derasnya air, sehingga ketika Bupati Soppeng A. Soetomo bersama Seluruh Muspida mengunjungi lokasi banjir terpaksa menggunakan perahu karet yang merupakan satu –satunya alat yang bisa digunakan untuk sampai ke lokasi banjir. Di dalam rombogan bupati nampak Kapolres Soppeng AKBP Zaiuddin Sidik, Kajari Soppeng Syafruddin SH., Ketua Pegadilan Negeri Soppeng H.BJ. Nasution SH, dan Sekda Soppeng Drs. Natsir Husain, M.si.
Bupati Soppeng ketika dikonfirmasi mengenai langkah-langkah awal dalam penanganan korban banjir ini kepada BKM disampaikan bahwa yang lebih utama dilakukan adalah mengevakuasi warga yang terperangkap banjir sehingga melalui Satpol PP tetap diharapkan untuk melakukan evakuasi warga yang ada di Desa Kebo, terutama yang menderita sakit, selanjutnya kita sudah siapkan bantuan beras dari Dinkes Sosial beserta minyak tanah. Dan setelah ini kita lakukan, maka mungkin besok hari ini kita melakukan pendataan yang dilakukan Satkorlak agar dapat dikoordinasikan mengenai hal-hak yang sangat dibutuhkan, dan kemungkinan masih ada dana sedikit yang tersisa dalam penanganan bencana alam yang lalu bisa kita salurkan kepada warga.
Sementara dalam pantauan BKM terlihat sawah-sawah warga yang baru ditanami tidak nampak lagi, hanya terlihat bagaikan lautan luas, yang masih kelihatan hanya atap rumah-rumah sawah, karena saat ini ketinggian air mencapai 3m. Menurut Kepala Desa Kebo, H. Muh. Jafar kepada BKM mengatakan bahwa area sawah yang baru ditanami warga sudah hampir dipastikan tahun ini akan gagal panen, yang luasnya 600ha, belum termasuk kebun cokelat yang jumlahnya juga ratusan ha, jadi ditaksir kerugian warga mencapai ratusan juta rupiah.
Sumber: Firdaus/BKM